Kategori
Wordpress Plugins

Alat Diagnosa Web Server

Gambar oleh labormikro

Sangat merepotkan bagi kita untuk memperoleh informasi dari layanan hosting yang kita gunakan untuk menaruh WordPress mengenai detail teknis server mereka. Misalnya pada layanan hosting yang saya gunakan, terlebih dahulu saya harus meminta ticket support untuk setiap pertanyaan mengenai layanan yang digunakan. Termasuk mengenai informasi detail mengenai web server seperti versi PHP atau versi MySQL dari web server yang dapat berguna bagi administrator WordPress. Tentu saja layanan hosting pasti selalu melakukan update terhadap web server mereka. Detail yang kita peroleh bulan ini belum tentu sama dengan bulan depan dan proses mengirimkan ticket support harus dilakukan kembali untuk memperoleh informasi terbaru.

Disinilah Diagnosis plugin dapat membantumu. Diagnosis dapat memberikan detail informasi teknis mengenai PHP, MySQL dan layanan web server lainnya yang mungkin diperlukan oleh administrator WordPress. Hal ini disediakan oleh Diagnosis dengan menambahkan sub-halaman baru ke menu Dashboard. Dari halaman inilah kamu dapat memperoleh beragam informasi mengenai web server dimana kamu menitipkan blog WordPress milikmu. Salah satu informasi yang ditampilkan adalah informasi yang biasanya diperoleh dari halaman phpinfo().

Gambar: Informasi MySQL

Informasi yang diberikan oleh Diagnosis ditampilkan dalam tabel yang sederhana berikut penjelasannya yang dapat memudahkan proses administrasi WordPress. Setiap kolom dalam tabel juga menyertakan tautan ke Wikipedia jika kamu memerlukan penjelasan lebih lanjut sesuai dengan konteks informasi yang ditampilkan pada kolom tersebut. Konteks bantuan ini akan sangat membantu baik bagi administrator kawakan maupun bagi mereka yang baru saja mengelola WordPress. Informasi yang diperoleh dari Diagnosis dapat digunakan untuk menentukan apakah web server yang kamu gunakan mempunyai kapabilitas untuk menangani plugins tertentu yang memerlukan komponen web server versi terbaru.

Kamu dapat melihat informasi mengenai Diagnosis di WordPress plugin directory.

Kategori
WordPress Wordpress Plugins

Tombol ShareThis untuk WordPress

ShareThis Button Image

Media sosial sekarang sedang menjadi tren. Semakin banyak media sosial baru bermunculan dengan beragam tawaran layanannya. Meskipun fitur dan layanan yang ditawarkan oleh media ini dapat berbeda, namun mereka mempunyai kesamaan, yaitu berbagi.

Kamu dapat berbagi konten dengan temanmu, pengikutmu, pembaca setiamu, atau apapun istilahnya yang mungkin digunakan pada situs media sosial spesifik. Setiap media sosial mempunyai kekuatannya tersendiri. Berbagi konten tertentu mungkin lebih cocok untuk satu media sosial tertentu tetapi tidak untuk lainnya. Belum lagi latar belakang pembaca yang bisa jadi beragam. Akan menjadi sulit untuk mengakomodasi kebutuhan semua pembaca agar mereka dapat membagi konten menarik yang mereka temui di situs kamu tanpa tombol ShareThis.

Apa yang harus kamu lakukan hanyalah pergi ke situs www.sharethis.com dan pilih desain tombol ShareThis yang kamu suka. Tekan tombol Get the Code Already untuk memperoleh kodenya. Kode ini dapat kamu tambahkan pada halaman manapun di situsmu. Salin kode ini. Setelah itu pergi ke situsmu dan instal serta aktifkan plugin ShareThis. Jauh lebih mudah jika kamu menggunakan WordPress built-in installer untuk plugins untuk menginstal ShareThis. Kamu juga dapat mengambil plugin ShareThis dari WordPress Plugin Directory dan mengunggahnya ke situs milikmu jika mau.

Setelah selesai menginstal plugin ShareThis, sekarang saatnya untuk melakukan konfigurasi. Buka pilihan konfigurasi untuk plugin ShareThis. Pada kotak teks Paste your widget code in here:, taruh kode yang kamu peroleh dari situs www.sharethis.com untuk tombol ShareThis pilihanmu. Simpan konfigurasi dengan menekan tombol Update ShareThis Options.

ShareThis Options Image

ShareThis bahkan bisa menghitung seberapa banyak konten dibagi-pakai. Sekarang pengunjung dapat dengan mudah berbagi konten dari situsmu yang mereka suka ke situs lain, twitter, digg, facebook, myspace, dan banyak lagi media sosial lainnya.

Lihatlah situs www.sharethis.com untuk informasi lebih lanjut.

Kategori
WordPress Wordpress Plugins

WP Hive: Alternatif WP Multisite

Gambar pin WordPress

Gambar oleh John Fischer

WordPress dimulai sebagai percabangan dari b2. B2 atau yang kadang disebut dengan cafelog adalah perangkat lunak yang didesain untuk menangani blog pribadi. Blog tunggal dimana hanya ada satu penulisnya, yaitu pemilik blog itu sendiri yang bertindak sebagai administrator sekaligus penulis.

Seiring dengan berjalannya waktu, kebutuhan akan banyak blog dalam satu situs yang terdiri dari beberapa kontributor menjadi suatu yang masuk akal. Apalagi platform saingannya, yaitu Movable Type sudah sejak awal mendukung beberapa blog dan penulis sekaligus dalam satu domain.

Permasalahannya adalah untuk melakukan hal tersebut, WordPress harus ditulis ulang. Bukanlah proses yang cepat untuk menulis ulang suatu perangkat lunak. Apalagi WordPress sendiri bukan dibuat dari nol, melainkan merupakan percabangan dari platform lainnya. Belum lagi resiko kehilangan kompatibilitas dari hampir semua plugins. Padahal disinilah letak kekuatan WordPress dari pesaing utamanya, yaitu berlimpahnya jumlah plugins yang tersedia.

Akhirnya solusi yang dipilih oleh para pengembang WordPress adalah mempertahankan perangkat lunak semula dengan tambahan beberapa hack. Mereka menyebut versi ini dengan WordPress Multisite. Teknik hacking yang membuat satu instalasi WordPress dapat menangani beberapa blog/situs dan penulis sekaligus dalam satu domain. Solusi ini bukannya tanpa masalah. Ini mempengaruhi performa dan skalabilitas dari WordPress itu sendiri.

Seperti yang dapat kita lihat pada situs layanan blog hosting WordPress.com yang menggunakan WordPress Multisite. Mereka bukan menggunakan web server yang umum ditemui seperti Apache atau IIS. Mereka menggunakan Nginx, web server dengan performa tinggi untuk menangani situs yang mempunyai beban kerja berat.

Sekarang ada alternatif WP Multisite, yaitu WP Hive. Apa yang menjadi keunggulan nya adalah WP Hive bukanlah sebuah hack. Melainkan bagian dari arsitektur WordPress itu sendiri, yaitu plugins. WP Hive didesain untuk membantu manajemen dalam lingkungan dimana hanya ada satu administrator. Dengan WP Hive administrator dapat menangani beberapa blog dan memberikannya kemudahan dalam menangani plugin, tema, dan berkas dari semua blog.

Beberapa fitur WP Hive seperti yang tertera pada situsnya:

  • Plugin, mudah diinstal
  • Kompatibel dengan hampir semua plugin lainnya
  • Mendukung domain, subdomain, dan subdirektori

Silahkan kunjungi situs WP-Hive.com untuk mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai WP Hive.

Kategori
WordPress

Hak Milik WordPress Berpindah Tangan

Gambar oleh Phil Oakley

Ketika baru mengunjungi situs WordPress.org pagi ini. Ada teks yang menarik perhatian saya, bertuliskan “WordPress Trademark Changes Hands” dari blog resmi WordPress. Saya pikir WordPress sudah dijual oleh Matt Mullenweg, pendiri WordPress. Tetapi ketika membaca benar-benar tulisan di blog tersebut, ternyata memang pindah tangan.

Jangan khawatir para pengguna WordPress, Kamu tetap dapat menggunakan WordPress secara gratis tanpa dipungut biaya. Apa yang dilakukan oleh Automattic, perusahaan pemilik merek dagang wordpress sebelumnya adalah memindahkannya ke yayasan non-profit bernama WordPress Foundation, bukan menjualnya ke suatu perusahaan komersial.

Jika kamu membuka situs WordPress Foundation, yayasan tersebut bertujuan melindungi merek dan logo WordPress dari penyalahgunaan. Mereka akan memastikan setiap sumber yang menggunakan merek dan logo WordPress adalah sumber resmi.

Seperti yang tertera pada laman WordPress Foundation, tujuan utama yayasan ini adalah untuk memastikan akses yang bebas, selama-lamanya, terhadap proyek perangkat lunak yang didukung oleh yayasan tersebut.

Pada blog pribadinya,  Matt Mullenweg juga menjelaskan alasan mengapa dirinya mendonasikan merek dan logo WordPress. Dalam tulisannya, Matt Mullenweg mengatakan bahwa transfer merek WordPress kepada WordPress Foundation berarti bagian pusat dari identitas WordPress, yaitu nama dan logonya, sekarang benar-benar independen dari perusahaan manapun.

Sama seperti proyek open source lainnya, WordPress juga membutuhkan yayasan sosial yang akan memastikan bahwa siapapun yang menggunakan proyek tersebut, patuh terhadap lisensi open source. Dalam hal ini WordPress menggunakan GPL yang merupakan salah satu lisensi open source yang tersedia. Oleh karena itulah Matt Mullenweg mendirikan yayasan ini.

Untuk informasi mengenai lebih lanjut mengenai WordPress Foundation, silahkan kunjungi http://www.wordpressfoundation.org.

Kategori
WordPress

Albizia dan Bombax diterima di direktori theme WordPress

Perjuangan yang tidak sebentar memang, butuh berkali-kali ditolak dan berkali-kali submit. Akhirnya setelah 2 bulan sejak pertama kali submit ke sana, Albizia diterima juga. Lebih beruntung Bombax yang satu bulan setelah disubmit bisa diterima.

Ketiga theme yang telah kubuat dan direlease utk publik (Albizia, Bombax, Calotropis) mempunyai banyak kesamaan. yang paling jelas adalah pada theme options-ya. Dengan theme options yang banyak membuatnya lebih menonjol daripada theme lain yang sekedar tampilannya saja yang bagus. Pertama kali struktur kodenya banyak yang berbeda, namun kemudian disamakan (dengan mengubah banyak tentunya). Penyamaan struktur ini berguna terutama jika ada fitur tambahan di suatu theme, agar dapat diaplikasikan dengan mudah di theme yg lain

Pembuatan Albizia dan Bombax ini memakan waktu berpuluh jam (mungkin ratusan), pekerjaan yang tidak sebentar memang, tapi semoga pengorbanan waktu ini bisa berguna bagi kita semua 😀 .

Kategori
Wordpress Plugins

Exclude Plugins: Solusi “mengamankan” Plugin pada WordPress 3.0 Multisite

Opsi Multisite pada WordPress 3.0 memungkinkan kita untuk membuat banyak blog dalam satu instalasi. Blog ini dapat kita pakai sendiri ataupun dibagi untuk umum sebagai suatu layanan blog gratis ataupun berbayar. Layanan blog gratis ini contohnya dapat kita lihat pada instalasi blogdetik.com dan yang paling populer tentu saja wordpress.com.

Kelemahan dari wordpress.com adalah kita tidak diberi hak untuk memanage plugin. Sebenarnya banyak plugin yang ditanam di wordpress.com tapi masalah mengaktifkan atau menonaktifkan plugin sepenuhnya ada di tangan Super Admin.

Lain halnya dengan blogdetik.com, mereka meyediakan halaman plugin agar kita bisa memilih plugin mana yang akan diaktifkan, meskipun ada plugin default yang sudah diaktifkan oleh Super Admin dan “harus” aktif di semua blog. Kelemahannya adalah tidak ada plugin yang tersembunyi atau hanya boleh dipakai sendiri oleh Super Admin alias si empunya instalasi. Sehingga si empunya tersebut tak bisa memakai plugin hebat semisal All In One SEO Pack atau Platinum SEO tanpa membuatnya tersembunyi dari pengguna biasa. Padahal plugin tersebut cukup memberatkan bagi server, yang bila diinstal di semua blog tentunya dapat membuat kita disuspend oleh yang punya hosting gara-gara terlalu banyak memakan resources.

Dari kedua skenario di atas nampak bahwa di wordpress.com para pengguna kurang bergairah gara-gara tak bisa mengaktifkan atau menonaktifkan plugin, sedangkan di blogdetik.com si empunya yang kurang bergairah buat blog di blognya sendiri gara-gara tak bisa memakai plugin secara eksklusif.

Untuk itulah saya membuat plugin ini. Exclude Plugins. Plugin ini bekerja dengan cara membolehkan sebagian plugin untuk pengguna biasa (included plugins) sementara menyembunyikan plugin-plugin hebat (excluded plugins) hanya untuk si empunya blog.  Jadilah semua senang 🙂

Download Exclude Plugins.

Glossary:
Super Admin: Administrator yang mempunyai kuasa penuh atas semua blog pada suatu instalasi WordPress multisite, berbeda dengan administrator biasa yang hanya memiliki kuasa atas blognya sendiri.

Kategori
WordPress

Mengaktifkan opsi multisite dalam WordPress 3.0

WordPress 3.0 baru saja direlease sesaat yang lalu. WordPress 3.0 merupakan sebuah perubahan besar. Saat di mana kehebatan WPMU dimasukkan dalam WordPress sehingga memungkinkan kita menjalankan banyak blog dari satu instalasi WordPress.

Bagi yang belum tahu apa itu WPMU (WordPress Multi User) silahkan tengok wordpress.com atau blogdetik.com atau blog.friendster.com … itu contoh instalan WPMU.

Opsi multisite pada WordPress 3.0 ini tidak aktif secara default. Kita harus mengaktifkannya dengan cara pertama kali mengedit file wp-config.php yang terletak di folder utama instalasi wordpress. Dalam file tersebut masukkanlah satu baris:
define('WP_ALLOW_MULTISITE', true);
Setelah itu pada wp-admin akan muncul opsi baru yaitu Tools > Network.

Kemudian akan muncul halaman seperti di bawah ini.  Memasukkan settingan awal lalu klik install.


Kemudan halaman tersebut akan berganti menjadi beberapa perintah yg harus dilaksanakan.

Yang harus dilakukan selanjutnya adalah mengedit 2 file. File yang pertama seperti yang tadi sudah diedit yaitu wp-config.php dan satu file lagi bernama .htaccess . Jika .htaccess belum ada, buat saja file baru. Tinggal copas saja yang ada di halaman itu. dan whala….. jadilah wordpress mutisite. Tak perlu menginstal wordpress lagi setiap mau buat blog baru. Hemat tempat, hemat bandwidth buat upload 🙂 .

Secara default, kita hanya bisa membuat blog baru menggunakan subdomain dari blog utama. Untuk bisa menggunakan nama domain yang lain, maka kita perlu menginstal plugin Domain Mapping.  Gampang khan?!

Tadi pas nyobain ngingstal WP 3.0-RC3 dan ngubek-ubek plugin , eeeeeh menemukan sebuah bug… Langsung aja kulaporkan ke sana core.trac.wordpress.org/ticket/13944 yang ternyata severity-nya blocker (woot) yang berarti parah tingkat paling tinggi di atasnya highest (woot) . Untung saja segera kulaporkan sehingga WP 3.0 yang diluncurkan beberapa jam kemudian sudah terbebas dari bug parah itu.

Kategori
WordPress

Mendesain Theme WordPress untuk direlease publik

Mendesain Theme WordPress itu mudah bagi yang bisa desain web. Asal edit sana – edit sini, taruh tag di sana – taruh tag di sini, jadi. Tapi ada hal tertentu yang harus diperhatikan jika ingin mereleasenya secara publik. Kalo mau dipake sendiri sih asal-asalan juga bisa.

Sebenarnya bisa saja sih, theme asal jadi itu direlease publik, tapi belum tentu bisa masuk ke Themes directory wordpress. Di situ aturannya cukup ketat. Makanya banyak orang yang mendesain wordpress tapi tidak dimasukkan di situ. Padahal di situlah tempat yang paling baik agar Theme kita diketahui dan didownload banyak orang. Karena yang pasti tempat itu “resmi” dan bisa diakses dari wordpress admin yang memungkinkan pengunduhan langsung ke server hostingan kita tanpa harus repot mendownload ke komputer kita lalu menguploadnya lagi ke hostingan.

Beberapa yang harus diperhatikan agar theme kita diterima di direktori theme resmi adalah:

1. Hindari Short Open Tag

Short Open Tag merupakan kependekan open tag. Berupa lambang <? untuk memendekkan <?php dan berupa <?= untuk memendekkan <?php echo. Hal ini harus dihindari karena tidak semua server mengaktifkan fitur ini, sehingga theme buatan kita tidak akan bisa jalan di server tersebut.

2. Jangan gunakan fungsi base64_decode()

Biasanya fungsi ini digunakan untuk mengaburkan suatu kode tertentu di dalam theme.  Biasanya berisi kode link ke website si pembuat theme atau bisa juga link sponsor. Si pembuat theme melakukan pengkaburan itu biasanya karena tidak ingin kode (link) itu dihapus oleh si pemakai. Walaupun sebenarnya bagi yang paham PHP, tidak susah untuk menghapus link tersebut.

Karena adanya kemungkinan “malware” dalam kode yang terkaburkan itu, maka fungi itu terlarang.

3. Jangan ada variabel $_GET[''], $_POST[''], $_REQUEST['']

Kode-kode ini rentan disalahgunakan.  Untuk diketahui, wordpress sudah menyediakan banyak fungsi2 untuk kita gunakan. Coba aja cek Function_Reference dan Template_Tags siapa tahu kta tak butuh query var. Namun jika kita memang ingin memanfaatkan/mengambil suatu query tertentu buatan kita, maka wordpress membolehkan kita menambahkan suatu query var sehingga bisa dimanfaatkan oleh wordpress secara aman.

Di dalam theme buatan itx misalnya, terdapat fungsi:

add_filter('query_vars', 'itx_add_new_var');
function itx_add_new_var($vars) {
    $vars[] = 'itx_css';
    return $vars;
}

Kode tersebut menambahkan query var baru ke wordpress dengan nama itx_css. Query var tersebut lalu bisa dipanggil menggunakan get_query_var('itx_css') yang secara efektif menggantikan variabel $_GET['itx_css'].

4. Hapus semua file thumbs.db

Thumbs.db merupakan file cache gambar yang diperuntukkan untuk mempercepat tampilan thumbail pada windows explorer. File ini samasekali tidak berguna di internet,  dan seringkali ukurannya besar yang bisa memperbesar ukuran download pula.

5. Sertakan gambar screenshot.

Gambar screenshot itu bernama screenshot.png, dan harus benar-benar screenshot dari theme ybs. Pastikan logo atau warna header merupakan tampilan default, bukan logo yang harus diupload yang tak nampak secara default.

6. Sertakan style.css yang berisii

  • Nama (harus unik di diretori tersebut)
  • Tags
  • Versi (dalam format x.x atau x.x.x dan harus unik di theme ybs.)
  • Class untuk align yaitu .alignright, .alignleft, .aligncenter (lihat http://codex.wordpress.org/CSS untuk selengkapnya)

7. Jangan lupa memanggil wp_head() di bagian header dan meanggil wp_footer() di bagian footer.

8. Buang link yang bisa tertampil di theme.

Biasanya link ada pada footer. WordPress melarang theme berisi link sponsor. Link yang tertampil hanya boleh link ke wordpress dan link ke website si pembuat theme.

9. Sertakan lisensi.

Lisensi herus kompatibel dengan GPL version 2 . Tinggal masukkan saja GPL.txt ke folder theme-mu, dan tambahkan deklarasi lisensinya. Bisa di buat suatu file misalnya license.txt atau readme.txt untuk mendeklarasikan, atau bisa diletakkan di style.css. Contohnya seperti yang terdapat di theme Calotropis bagian atas style.css:
Both the design and code are released under GNU GPL v3; in addition, links in the footer must remain intact as is. http://www.gnu.org/licenses/
Kita bisa menambahkan syarat lisensi tu, dalam hal ini misalnya link tidak boleh dihapus.

10. Jangan lupa memanggil comment-reply.js

File javascript ini berfungsi meletakkan kolom submit comment di bawah komen ybs ketika kita mengklik reply. Sejak wordpress versi 2.7 yang mendukung threaded comments, maka file ini wajib dipanggil untuk memudahkan reply ke suatu komentar. Jadi tak perlu melakukan scroll ke atas – ke bawah jka ingin mereply suatu komentar.

Untuk memanggilnya, masukkan kode ini di bagian header:

<?php if (is_singular()) wp_enqueue_script( 'comment-reply' );?>

Theme buatanku tertampil di Newest Themes

Setelah semuanya selesai, tinggal dikompress jadi .zip lalu diupload ke Themes directory.

Kata mereka, sebaiknya menggunakan browser Opera untuk mengupload, karena browser lain mungkin akan salah mengirimkan header. Tapi santai saja, gunakan browser biasa juga gpp, sistem meraka akan memberitahu jika ada kesalahan dan diharuskan memakai browser Opera 😀 .

Ketika kita selesai mengupload, sistem akan melakukan pengecekan standar tentang kode-kode di dalam file upload-an kita itu. Pengecekan otomatis ini meliputi poin 1-5 dari yang telah saya utarakan di sini. Jika masih ada kesalahan perbaikilah, lalu mengupload lagi. Setelah pengecekan otomatis lolos, maka ada pengecekan manual yang dilakukan oleh mereka. Kita harus menuggu di-review yang waktunya menurut pengalaman saya berkisar antara 3  sampai 10 hari.

WordPress akan memberikan balasan jika memang theme buatan kita ditolak. Mereka akan menyebutkan secara spesifik apa yang “kurang” dari theme kita. Setelah itu kita bisa memperbaki kekurangan itu dan mengupload versi baru-nya ke situ. Dan berharap bisa diterima.

Jika theme buatan kita tidak diterima direktori theme resmi, dan kita memutuskan untuk tidak memperbaiki, jangan khawatir. Ada banyak direktori theme lain yang tidak seketat direktori resmi. Saya tidak daat menyebutnya satu-satu karena jumlahnya cukup banyak. Atau, tampilkan saja di website kita, tak perlu dimasukkan ke direktori theme… Mudah khan?!

Kategori
WordPress

Calotropis diterima di Themes Directory-nya WordPress

Akhirnya Calotropis diterima juga.  Pertama kali submit ke themes directory ditolak 🙁 , tapi akhirnya setelah diperbaiki sesuai panduan mereka sehingga diterima juga deh :-). Versi 1.0 kuupload tanggal 11 Mei dan mereka memberi balasan tanggal 20 Mei, agak lama juga. Sempet kuatir gak ke-review.

Setelah email penolakan itu kuterima, kubaca dengan perasaan berkecamuk dan  kucermati alasan penolakannya maka saya bisa berintrospeksi, merenungi apa saja yang kekuranganku (–lhoh koq malah kaya’ ditolak apa nih?!). Segera setelah itu Calotropis direvisi dan jadilah vers 1.1 diupload tanggal 25 Mei, dan ternyata hari ini sudah diterima … senangnya.

Theme ini mbuatnya agak lama, soalnya ada theme-optionsnya. Berarti gak cuma bikin desain, tapi juga programming agar bisa ngatur-ngatur tampilan. Setelah itu selesai-pun musti ngecek pake semua browser, ya gak semua sih sebenarnya.. hehe… yang jelas musti terlihat benar di 4 besar browser yatu Firefox, Internet Explorer, Chrome, dan Opera.

Yang paling susah, ya tau sendiri lah namanya IE 6, lalu IE 7… browser itu buggy banget… Mungkin ada yang bertanya-tanya bagaimana aku bisa ngetes beberapa versi IE 6 dengan mudah? Bukan dengan beberapa komputer yang diinstal IE dengan versi berbeda-beda, tapi cukup menggunakan iecollection yang bisa nginstall IE (hampir) semua versi untuk bisa digunakan semuanya dalam satu komputer… Enak khan?! gak perlu ngetes di banyak komputer.

Calotropis fiturnya banyak lhooooo. Ada beberapa kombinasi sidebar, bisa kanan, bisa kiri, bisa kanan-kiri. Bisa ngupload header buatan sendiri, bisa pake background sendiri. Bisa milih dari beberapa warna yang disediakan. Pokoke macem-macem lah.. coba aja sendiri.

Calotopis bisa didownload di sini. Enjoy!

Kategori
WordPress

Menggunakan alamat website sebagai OpenID kita:

openid logoTak ingat password? Capek mengisi form registrasi? OpenID adalah cara aman, lebih cepat dan lebih mudah untuk login ke berbagai website.

Itulah tagline yang terbaca dari homepagenya OpenID. OpenID adalah nama login universal untuk mengautentikasikan kita ke blog atau website yang mendukung OpenID, tanpa perlu mengisi form registrasi lagi dan lagi. Biasanya berbentuk sebuah URL, seperti halnya itx menggunakan itx.web.id sebagai OpenID, yang berarti itx bisa login di website yang mendukung OpenID cukup dengan menggunakan URL itu.

Hebatnya, jika kita sudah memiliki salah satu fasilitas berikut, maka kita sudah mempunyai OpenID.

google logomasukkan
Google Profile URL berupa http://google.com/profiles/me
yahoo logo
cari tombol “sign in with yahoo” atau masukkan OpenID Yahoo berupa https://me.yahoo.com/username
myspacemasukkan: www.myspace.com/username
bloggermasukkan: namablogmu.blogger.com
flickrcari tombol “sign in with yahoo” atau masukkan: www.flickr.com/username
wordpressmasukkan: username.wordpress.com

Cara Login dengan OpenID.

(cara ini terdapat pada website OpenID)

1. Katakanlah kita mengunjungi suatu website yang mendukung OpenID.

Ketika akan masuk kita akan dihadapkan pada form login kurang lebih seperti berikut: Login OpenID

Perhatikan bahwa dengan sistem OpenID kita hanya butuh menulis satu hal: OpenID-kita. Contoh ini menununjukkan itx yang punya OpenID itx.web.id.

2. Setelah form login itu disubmit, maka browser akan membawamu dari website yang kita kunjungi ke website penyedia OpenID milik kita.

pindah halaman

Dalam Contoh ini, penyedianya adalah itx.web.id

Si penyedia -itx.web.id dalam contoh ini- menemira pesan, pesan ini menanyakan pada penyedia:

“Seseorang mengklaim sebagai itx.web.id. Apakah dia benar adalah itx? Bisakah dia login ke website kami?”

3. Penyedia kemudian mengecek apakah kita benar-benar adalah yang kita bilang.

Jika kita telah login pada penyedia OpenID, maka kita langsung lanjut ke tahap 4.

Jika tidak, kita harus memasukkan username dan password untuk si penyedia OpenID tersebut. Dengan cara inilah penyedia OpenID yakin bahwa kita adalah benar-benar kita.

4. Sekarang kita telah terbukti sebagai pemilik OpenID tersebut.

Selanjutnya penyedia ingin meyakinkan apakah kita benar-benar ingin masuk ke website yang meminta login dan apakah kita bersedia membagi informasi dengannya.

Sekarang ini, website biasanya hanya butuh penyedia mengecek apakah kita sebagai pemilik OpenID itu, tapi ada beberapa website yang ingin tahu lebih banyak, seperti alamat email kita yang digunakan untuk maksud “tertentu”.

Penyedia menanyakan informasi mana yang ingin dibagi, dan mana yang tidak. Biasanya kita juga diberi opsi untuk memberikannya sekali atau otomatis ketika website tersebut memintanya.

Yang harus dilakukan adalah memilih seberapa banyak informasi untuk diberi dan apakah memberikannya sekali saja atau otomatis saat website teersebut memintanya.

Sekarang, si penyedia mengirim kita kembali ke website yang kita kunjungi tersebut dan memberikan informasi yang telah kita perbolehkan untuk dibagi. Kita sekarang telah login!

Membuat nama website kita menjadi OpenID kita

Meskipun itx telah punya OpenID dari berbagai penyedia yang telah disebutkan di atas, tapi lebih enak jika punya id yang benar2 unik, yaitu website itx.web.id. Betul?!

OpenID mempunyai sifat desentralisasi, yang artinya semua orang boleh menjadi penyedia OpenID. Kita bisa menjalankan server OpenID sendiri tentunya (misalnya menggunakan phpMyID), tapi ada banyak penyedia yang menghostkan ID untuk kita. Misalnya livejournal dan myopenid.

Kita cukup menambahkan baris berikut pada bagian HEAD homepage website kita, agar bisa jadi OpenID kita.

Menggunakan LiveJournal :

<link rel=”openid.server”
href=”http://www.livejournal.com/openid/server.bml” />
<link rel=”openid.delegate”
href=”http://username-lj-milikmu.livejournal.com” />

atau menggunakan myOpenID:

<link rel=”openid.server”
href=”http://www.myopenid.com/server"/>
<link rel=”openid.delegate”
href=”http://username-myopenid-milikmu.myopenid.com” />

Kode di atas yang berada di bagian HEAD akan memberitahu pada pengguna bahwa website kita  mendelegasikan validasi pengguna ke http://username-myopenid-milikmu.myopenid.com dengan server http://www.myopenid.com/server. Dan jadilah website kita menjadi OpenID kita 😀

Membuat nama website berbasis wordpress kita menjadi OpenID kita

itx bukan ingin bicara tentang wordpress.com, -ya- itu merupakan salah satu penyedia OpenID, tapi itx bicara tentang blog berbasis wordpress seperti itx.web.id ini.

Caranya sangat-sangat mudah. cukup pasangi plugin OpenID. that’s it. Mudah bukan?!

Setelah dipasangi plugin itu, itx dapat login di mana-mana menggunakan itx.web.id :D. Para pengunjung itx.web.id-pun dapat komen di sini setelah login dengan OpenID mereka masing-masing. Enak bukan?!

Biar tampilan komen lebih oke:

Pasangi saja plugin RPX, dengan begitu para pengunjung bisa komen dan login dengan lebih mudah, lebih intuitif dibanding plugin OpenID. Selain itu mendukung login menggunakan facebook connect, twitter, blogger, yahoo, google, wordpress.com, dan lain-lain pula.

Sayangnya dia tidak dibekali dengan kemampuan server seperti halnya plugin OpenID. Jadi, dipasangi keduanya saja. Mudah bukan?!

atau jika tak ingin memasang plugin OpenID, cukup masukkan kode berikut di halaman header.php ada template wordpress kita:

<?php if ( is_home() && $paged < 2 ) { ?>
<link rel=”openid.server”
href=”http://www.myopenid.com/server"/>
<link rel=”openid.delegate”
href=”http://username-myopenid-milikmu.myopenid.com” />
<?php } ?>

Jadi, tunggu apa lagi?! Gunakan nama website kita menjadi OpenID….